Text

Sarkasme Seorang Kritikus

Oleh: Bunga Aulia Juhedi

“Perkenalkan nama saya adalah Kritikus. Hobi dan pekerjaan saya adalah mengkritik. Apapun.”

Pertama-tama, sebagai kritikus, kritik paling mudah adalah membandingkan apa-apa yang sama pernah saya kerjakan dulu dengan apa-apa yang mereka kerjakan sekarang. Pasti selalu ada saja hal yang bisa dikritik. Saking seringnya saya mengkritik, perkembangan dan inovasi yang kecil tidak akan saya akui. Masa bodohlah dengan pengembangan diri. Manusia cenderung resisten berubah. Manusia pasti susah berubah. Kalaupun berubah pasti lama. Nanti malah keburu terlambat. Mungkin saya lupa dulu berasal dari bawah baru ke atas. Mungkin saya tidak peduli bahwa waktu yang berbeda pasti menghadapi tantangan yang berbeda. Yang saya mau segalanya berjalan baik dan lebih baik, sesuai dengan apa-apa yang saya harapkan. Apakah saya mengalami post-power syndrome? Sudah pasti bukan.

Kritik terbaik selanjutnya adalah kebalikannya. Paling membahagiakan  adalah mengkritik apa-apa yang sama mereka dulu lakukan dengan apa-apa yang saya lakukan sekarang. Pastinya saya merasa lebih baik dari mereka. Mereka pasti tidak kreatif. Mereka pasti malas berjuang lebih keras. Mereka pasti tidak cukup pintar untuk melakukan apa-apa yang saya lakukan sekarang. Apakah saya manusia yang sombong? Saya tidak pernah merasa seperti itu, inilah kenyataannya.

Apa lagi ya yang selanjutnya menurut saya mudah dikritik? Oh ya, paling asyik mengkritik kawan-kawan dalam satu tim saya. Apalagi kinerja saya adalah yang terbaik. Bahagia rasanya menyindir mereka yang kinerjanya seadanya. Masa bodohlah dengan tantangan atau mimpi-mimpi pribadi. Yang saya mau tahu dengan posisi yang sama, kinerja siapapun harus sama baiknya. Kalau tidak, rasanya kerja keras saya seperti diinjak-injak. Saya selalu yakin mereka belum bekerja sekeras apa yang saya lakukan. Mungkinkah saya kehilangan rasa manusiawi? Oh, tentu saja tidak. Ini namanya keadilan. Kalau dimaklumi nanti malah makin menjadi.

 Lalu kritik paling menyakitkan yang biasa saya lontarkan adalah kritik atas keragaman manusia. Sebagai orang yang pekerja keras, saya tidak bisa tidak geram melihat mereka yang kerja santai. Saya tidak pernah percaya bahwa kesuksesan bisa diraih dengan bersantai-santai. Saya tidak pernah peduli apa-apa yang mereka lakukan ketika saya tidak melihat. Saya hanya melihat dan menilai apa-apa yang ada di hadapan saya. Sebagai orang yang fokus terhadap kegiatan, saya tidak bisa tidak meremehkan mereka yang kelewat sibuk mengambil berjuta kegiatan demi jejeran pengalaman di CV, walaupun tidak berkinerja dengan baik di satu tempatpun. Apakah mereka tidak punya tanggung jawab moral atas apa-apa yang mereka cantumkan nantinya? Mereka menganggap satu kegiatan atau organisasi hanyalah batu loncatan. Yang penting mereka untung: mendapatkan link, bertemu orang terkenal, mendapatkan uang banyak, dan masih banyak bentuk untung lainnya. Mereka pasti tidak pernah memikirkan yang namanya balas jasa atas apa-apa yang telah didapatkan dari sana. Apakah saya merasa menjadi manusia paling baik nan sempurna? Pastinya tidak. Setidaknya saya lebih baik dengan tidak menjadi lebih buruk dari mereka.

Apakah anda sakit hati dengan apa-apa yang saya tuliskan di atas? Kalau memang tidak merasa seperti itu, seharusnya tidak. Kalau merasa, perbaikilah diri. Apakah saya adalah manusia paling benar? Tentu saja tidak.

“Pasti anda semua tahu beberapa dari ini hanyalah pengandaian yang dibumbui hiperbola. Ya, beberapa. Karena selain kritik, beberapa kalimat di dalamnya memang merupakan sarkasme.”

Tags: Bunga
Text

Kosong, Kosong, Kosong

Oleh: Ita Alvionita

Kosong, kosong, kosong

3 kata itu mengungkapkan perasaanku saat ini

Ingin bermain cakar-cakaran

Tapi tak punya teman

Sedihnya

Terkadang, aku tak suka berteman

Aneh

Tetapi jikalau aku senang berteman,

pasti sekarang aku punya teman

Aku sendiri tidak tahu arti teman

Teman

Aku sering bicara dengan orang lain

Aku sering bersapa dengan orang lain

Aku sering bersama dengan orang lain

Aku sering bersenandung bersama dengan orang lain

Tapi apa itu teman?

Mungkin ya, mungkin tidak

Aku jarang bersedih dengan orang lain

Aku jarang bersulit dengan orang lain

Aku jarang berbahaya dengan orang lain

Aku jarang berranjau dengan orang lain

Tapi apa itu berarti aku tak punya teman?

Mungkin ya, mungkin tidak

Aku percaya aku dulu punya teman

Aku percaya masa laluku itu nyata

Aku percaya bayang-bayang itu ada

Bayang-bayang, kembalilah…

Temani aku agar tidak sendiri

Masa lalu, kembalilah…

Temani aku agar tidak kesepian

Teman, kembalilah…

Agar aku

Agar aku, aku tidak selalu berpura-pura J

Tags: Ita
Text

Email, Linimasa, dan Game Facebook

Oleh: Muhamad Helmi

  1. Malam itu di Warnet dekat rumah, kududuk di pc dekat jendela. Sesekali melihat email, sesekali mengecek linimasa.
  2. Baru beberapa saat log-in di billing, seorang cowok remaja duduk di sebelah dan bermain game facebook seolah gambling.
  3. Seperti yang lain, menyumbang kebisingan dan mengeluarkan kata kotor kalau-kalau permainannya kacau.
  4. Sembari asyik main kartu dalam dunia maya, Ia mengeluarkan sepuntung rokok dari kantung baju dan mengeluarkan pemantik dari kantung celana.
  5. Ujung rokok itu terbakar: Aku, masih menunggu proses attaching email dengan sabar.
  6. Saat dihisap, bara api di ujung puntung makin terang. Masih menunggu giliran, Ia menghembuskan rokok itu empat-lima derajat ke atas sambil menerawang.
  7. Belum ingin memberikan tanda, kutahan diri untuk tidak terbatuk sembari perlahan menghirup udara.
  8. Sesak sih, tapi apa boleh buat. Bau apak sih, tapi untuk sesaat harus bertahan agar kuat.
  9. Semenit, aku tahan. Dua menit, lumayan.
  10. Tiga, empat menit: Aku terbatuk, terbatuk:
    • Uhuk
    • Uhuk
    • Uhuk
  11. Kukibaskan tangan berharap kepulan itu hilang di balik atap: halo, Saya tidak suka rokok yang berasap!
  12. Remaja tanggung itu melirik dan menatap gerakan tanganku dengan heran. Sembari mematikan rokoknya ke asbak di atas meja: “Oh Mas, engga ngerokokya? Sorry sorry!” katanya pelan dan sopan.
  13. Lalu, dia kembali ke dalam game facebooknya. Begitu pun Aku: kembali ke email dan linimasa.
  14. Ah, andai semua perokok seperti anak ini!

 

Jakarta, April 2012

Penulis tidak merokok dan tidak suka asap rokok—juga bersikap netral pada perokok dan tidak kontra terhadap perusahaan rokok dalam segala aspeknya.

Tags: Helmi
Text

Malfungsi Klakson di Indonesia

Oleh: Ita Alvionita

Tin tiiiin… Tin tiiiiiin…..

Pengguna setia jalan raya tentunya sudah tidak asing lagi dengan bunyi ini. Bagaimana tidak, sistem kecil yang bernama klakson yang dirancang untuk tujuan peringatan dan keselamatan ini memang selalu disertakan di setiap jenis kendaraan. Sehingga, jelas bahwa fungsi awal klakson sebenarnya adalah sebagai peringatan adanya tanda bahaya. Hal ini tentu saja bermakna bahwa tidak perlu setiap saat kita membunyikan klakson. Di negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Singapura, penggunaan klakson biasanya hanya ditujukan untuk menghalau atau mengusir hewan dengan cepat. Artinya, di negara tersebut penggunaan klakson akan sangat jarang sekali terjadi.

Bagaimana dengan Indonesia?

Tentu saja kita akan menemukan kondisi yang sangat berbanding terbalik. Entah mengapa, di Indonesia penggunaan klakson adalah suatu hal yang umum dan sudah menjadi lumrah. Ingin mendahului kendaraan lain, klakson. Dikala terjadi kemacetan, klakson. Bahkan, untuk meminta dibukakan pintu rumah saja, klakson. Dan anehnya lagi, ketika ada pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross, pasti akan terdengar bunyi klakson. Padahal, pejalan kaki telah menggunakan zebra cross sesuai fungsinya. Pengendara mobil dan motor seharusnya sadar bahwa mereka harus berhenti dan mengizinkan para pejalan kaki untuk menyeberang terlebih dahulu.

Polusi suara adalah efek yang paling terlihat dari penggunaan klakson yang berlebihan. Bayangkan, ketika lampu merah di sebuah pertigaan masih menunjukkan beberapa detik lagi namun kendaraan di lain arah sudah memaksa untuk maju. Tentunya hal ini akan mengganggu arus kendaraan yang masih memiliki hak lampu hijau. Dikala kemacetan hasil buatan para pengguna jalan itu sendiri sedang terjadi, pengemudi yang emosional dan tidak mau kalah ingin lewat dengan cepat, menekan klaksonnya berulang-ulang sebagai tanda, “Woy, minggir! Gue mau lewat nih!” yang kemudian kegiatan mengklakson ini akan diikuti oleh kendaraan lainnya. Hal ini tentu saja akan menimbulkan kebisingan yang sangat mengganggu otak setiap manusia. Pusing, kaget, kesal, dan belum lagi polusi udara yang ditimbulkan dari setiap kendaraan akan membawa efek semrawut di jalan raya. Padahal, klakson yang kita bunyikan pun tidak akan langsung membebaskan kita dari kemacetan.

Dari sini terlihat betapa masih kurangnya kesadaran tertib berkendara dan saling menghargai antar pengguna jalan raya sebagai fasilitas umum di Indonesia yang “katanya” masyarakatnya memiliki tingkat tenggang rasa yang tinggi, saling menghargai dan menghormati antar sesama, dan tingkat keramahan yang tinggi. Padahal, masih banyak faktor lain yang juga belum dibenahi dalam kegiatan berlalu lintas, seperti menerobos lampu merah, berkendara tanpa helm, ugal-ugalan di jalan raya, mengantuk ketika berkendara, dan hal-hal lainnya yang masih sering kita lakukan, padahal hal itu tidak terlalu membawa efek positif yang besar untuk setiap individu. Jika memang ingin lebih cepat sampai tujuan atau terburu-buru, mengapa tidak berangkat lebih awal agar tidak terlambat? Budaya “baik” inilah yang seharusnya dibentuk sejak dini agar manusia-manusia Indonesia selanjutnya benar-benar bisa memilih dan melakukan hal-hal yang patut mereka lakukan sebagai manusia J

Tags: Ita
Text

Do Enjoy The Day Off

By: Nadya Priscilya Hutajulu

I have never noticed how miserable it would be to be working on weekends. I must have witnessed my parents worked overtime or during weekends but I never really paid attention to it until last Saturday. So there were my friends and I having good time together. We couldn’t enjoy the night at that cafe without the tasty meals made by the chef, comforting hospitality by the waitress that came in handy, and the live music beautifully played by the band.              

From my side of view, it turned out that the night was pleasant for the restaurant’s guest but not for people that were making money out of what the guests enjoyed. I know it’s very soon to conclude that only the guests were happy. Actually, what I noticed last Saturday have brought me back to microeconomics class I enrolled last semester particularly to the part which the backward bending supply of labor curve was taught.


The curve is interesting. It draws the relationship between wage rate and working hours. From that curve, we can picture a theory saying that after workers reach a certain point, their working hours become less and less though the wage rate is increasing at the same time. The reason is time spent for working is at expense of leisure time and in that certain point, workers can’t bear the opportunity cost any further.

People working in the restaurant may be not applicable for the theory for they might not be able to choose their shifts or they might actually have sufficient leisure time. To make the illustration become easier, let’s take example of the life of college students. With enormous obligations to learn the subjects’ materials, the opportunity to earn life experiences is abundant out there. The college students also fit with the curve’s assumption of independent decision of working hours (hereafter refers to as productivity). Therefore, it’s now common to see students excel in organizations, committees, and also competitions. Sometimes, they all stand balanced in the same time. But it’s not unusual to see some students fail in excelling at all of those.

So, what is it all about? Well, in my point of view, the curve is supposed to be a “wake-up-call” for individual to be aware of their limits in working. But you know  that the limit,  that certain point itself can be relaxed through personal reasons like a willingness to invest more from the income, a need to buy something really expensive their current savings can’t afford, or simply because they’re no friends to hang with. For college student, the reasons maybe fulfilling ambitions to upgrade CV, expanding networks, or getting recognized as high achiever.

However, the main concern is to realize that no matter how far you shift the curve forward, the shape is still backwards. In other words, the limit of working hours still exists. In the end, the constraints of limit will not be able to be compromised any longer that you end up in a situation where we become less productive if you force yourself to go beyond the limit.

Knowing this helps you realize not to pull the limit before it shrinks to the previous level you’ve been. But the only person who knows the limit is yourself who knows your ambitions, strengths, and weakness better than anyone else. Before contemplating it, I suggest enjoying day off genuinely without guilty of not working. You know, even terrible workaholics deserve it.

Tags: priscil
Text

Terlewat

Oleh: Eka Aulia Labibah

Nguuung… Nguuung… Nguuung

Masih kukunyah permenku untuk mengatasi rasa pusing ketika take-off.  Dan mencoba untuk terlelap setelah berhari-hari kuhabiskan jam tidurku di daratan.

Menjelang landing, Kudongakkan kepalaku sejenak ke jendela pesawat. Masih itu-itu saja, warna hijau, coklat, kotak-kotak berjejer lurus kadang berantakan. Seperti biasanya tak ada bedanya dengan negara-negara yang telah kukunjungi.

Brrrrrrm… Brrrrrrm… Brrrr

Mogok di tengah jalan! Rutinitas harianku berubah seketika pagi ini. Kuserahkan urusan ini pada supir yang biasa mengantarku sambil memasukkan kembali segala yang berserakan ke tempatnya semula untuk kubawa.

Rrreng… Rrreng… Rrrweeeng

Ini kali pertama aku menuju kantor seperti ini. Bising sekali. Tapi harus kuatasi. Masih ada satu deadline yang butuh sedikit sentuhan lagi agar menjadi sempurna. Kupasang earphone dengan menyetel musik untuk mengatasi hiruk pikuk lalu lintas agar bisa berkonsetrasi.

Tok. Tok. Tok. Tok.

Aku berdiri dari bangku kerjaku, bergegas menuju ke tempat makan siang langgananku. Ternyata masih ada beberapa orang yang tersisa di kantor. Mereka tersenyum ramah ketika kulewati sambil mengajak makan siang bersama. Aku masih tidak percaya mereka tidak bosan-bosannya untuk berbasa-basi setiap hari dengan menanyakan hal serupa dengan jawaban yang tak berbeda. Ayolah, waktu istirahatku hanya setengah jam!

Tik. Tok. Tik. Tok.

Usai makan siang tanpa teman bicara dengan jadwal menu yang serupa tiap minggunya; dengan begitu waktu makan siangku lebih cepat lima menit;  Aku langsung menuju tempat fotokopi.  Kutinggalkan berkas-berkas yang akan di-copy untuk ibadah. Mesin fotokopi di departemenku sedang rusak, kalau fotokopi di departemen lain pasti akan antri. Gerak abang tukang fotokopi lamban. Kutinggalkan tempat fotokopi dengan merutuk dalam hati. Kulihat jam di tangan kiriku yang bebas. Masih ada waktu lima menit lag…

BRUK!

Ah, batu kerikil sialan! Sepuluh detikku yang berharga hilang sudah, sia-sia. Ditambah lagi barang-barang yang kubawa menuju kantor untuk keperluan meeting berhamburan kemana-mana. Kuambil dan kurapikan barang-barangku dengan gerakan gesit yang sempurna seperti biasa. Buku,  dua buah binder, file folder berisi surat dan berkas  ini itu. Kuperiksa kantong blazerku sebelah kiri, masih ada Kartu Pengenal disana. Oke, selesai. Hanya butuh waktu 30 detik. Kulangkahkan kakiku lagi. Tetapi, tunggu. Pulpen yang kubeli di New York raib! Apakah tidak kubawa? Tidak, tidak. Aku sangat yakin membawanya untuk memelajari berkas-berkas persiapan meeting sembari makan siang. Pasti terjatuh. Iya, terjatuh. Di sekitar sini.

Celingak-celinguk. Nah itu dia! Kucondongkan badanku untuk mengambil pulpen warna merah itu. Tampak mencolok di sekitar bunga….Bunga? Sejak kapan disini ada taman kecil berhias bunga? Selama hampir setahun aku melewati rute yang sama dari tempat makan siang menuju kantor? Aku tak tahu banyak tentang jenis bunga tapi yang pasti tampak indah sekali dipandang mata dengan bau yang melenakan indra pencium.

Drrrt… Drrrt… Drrrt

Oh, tidak! Itu pasti dari atasanku. Segera kurogoh tas tanganku mencari-cari sumber getaran. ‘Mom is calling’ tertulis di layar smartphoneku.

Tok… Tok… Tok

Setelah kumasukkan pulpen ke dalam tas tanganku sambil mengerjap, aku melangkah menuju kantor. Tidak bergegas. Tidak dalam langkah-langkah panjang. Perbicanganku dengan Ibu singkat saja. Kesadaranlah yang menamparku tanpa ampun. Begitu banyak hal penting namun sederhana yang terlewat.

Tags: Eka A
Text

Igauan Tentang Indonesia Pinggiran

Oleh: Genio Bian Treba Alifianda

Lha wong saya bukan lulusan kuliahan, gimana saya bisa tau hukum perdata pidana ini itu. Masnya aneh-aneh aja kalo nanya. Saya dulu tukang becak mas, dulu mangkalnya deket Matahari Jalan Pahlawan. Jadi anggota partai dulu juga diajak sama Pak Parwoto, dulu dia itu temen saya pas kerja di Kalimantan.” ujar Mas Gunawan, anggota Partai Badak Bercula yang kini masih berstatus sebagai tersangka kasus penyuapan terminal Purboyo kepada wartawan yang mewawancarainya. “Dulu itu Pak Parwoto yang nyuruh saya ngurusin proyek ini, lha ujug-ujug (tiba-tiba,red) kok jadi rumit gini. Saya itu lho padahal sudah melakukan prosedur yang diperintahkan.” tambah Mas Gunawan.

Memang, situasi di dalam Partai Badak Bercula memang it’s complicated sekarang. Enam dari tujuh belas perwakilannya yang duduk di kursi DPR semuanya sedang tersangkut kasus. Dua di antara enam orang tersebut terlibat kasus wanita, yang satu kasus perselingkuhan yang satunya lagi kasus video porno. Sedangkan tiga orang lainnya terlibat kasus kolusi dan penyuapan pembelian mobil pemadam kebakaran kota. Nah, yang jadi kontroversi sekarang ialah Mas Gunawan, ibarat Gayus Tambunan yang hanya berstatus pegawai negeri golongan 3A namun memiliki rekening hingga milyaran, dia juga membuat warga kota Kartobanyon geleng geleng.

Lha piye ora nggumun to mas, wong lulusan SMP kok iso dadi anggota DPR trus nduwe mobil Mersi  (Lha gimana nggak heran mas, orang yang hanya lulusan SMP kok bisa jadi anggota DPR terus punya mobil Mercedes Benz).” celetuk Saidi, seorang pedagang batik dikawasan Ahmad Yani. “Aku jan ora ngerti, Kartobanyon iki jane arep didadekne koyok opo. Tambah edan wae urusan ne wong gedhi gedhi (Saya juga nggak tahu, Kartobanyon ini mau dijadikan seperti apa. Semakin gila saja urusan para pejabat tinggi).” tambahnya dengan rasa kesal karena situasi politik pemerintahan penuh dengan kasus-kasus yang membuat warga Kartobanyon berang. Disaat anak-anak Kecamatan Wungu banyak yang tidak bisa sekolah gara-gara sekolah mereka terendam banjir, para anggota dewan yang terhormat malah terlibat kasus-kasus yang memalukan. Ini sungguh pukulan telak bagi Partai Badak Bercula. Dengan suara hampir 75% ketika Pilwakot dahulu, mencuatnya kasus-kasus ini membuat kapal pemerintahan Budi Grandong, julukan Pak Budi Hartanto, walikota Kartobanyon yang juga berasal dari Partai Badak Bercula, gonjang-ganjing diambang keruntuhan. Sudah diprediksi bahwa citra Partai Badak Bercula bakalan turun daun dan nggak bakalan menang di Pilwakot dua tahun lagi, kecuali mereka menggunakan siasat licik dengan menjadi pahlawan yang sok-sok menolong pedagang ketika Pasar Baru mengalami kebakaran hebat tiga tahun lalu, padahal mereka sendirilah yang merencanakan pembakaran itu, benar-benar licik, menurut cerita beberapa kuli gabah yang berpindah dari warung ke warung.

Media massa pun tak mau ketinggalan.

Lulusan SMP Mbadog Duite Rakyat (Lulusan SMP Makan Uang Rakyat)”. Itulah salah satu headline yang muncul di salah satu koran berbahasa Jawa di kota Kartobanyon. Beberapa media massa dari luar kotapun ribut membicarakan masalah ini. Tidak ada satupun warga kota Kartobanyon yang tidak up to date dengan kasus ini, bagaimana tidak, tidak ada satu koranpun yang juga tidak membahas kasus ini. Semuanya muncul di halaman pertama.  Lagipula, enam kasus tersebut semuanya terjadi pada saat yang hampir bersamaan dan tidak ada satu kasuspun yang luput dari sorotan media massa. Anak dari Mas Gunawan kata teman-temannya juga mulai jarang masuk sekolah. “Kayaknya dia pindah deh mas ke Batam, ke tempat pakdhe nya.”,jawab seorang siswi SMA Endrakila, tempat anak Gunawan bersekolah. Saking kepo-nya media, kasus ini pun diburu hingga ke bangku sekolah anaknya.

Namun sebenarnya ini merupakan hal yang lumrah, lagipula banyak sekali media massa di kota Kartobanyon dan tidak sedikit pula yang dimiliki oleh para pejabat elit pemerintahan. Makanya tidak heran, ketika kasus ini menyeret sederet nama dari Partai Badak Bercula, harian Srengenge-(matahari,red)-lah yang paling gencar membeberkan kasus ini kepada masyarakat Kartobanyon. Bagaimana mau tidak gencar, lha wongSrengenge itu dimiliki oleh musuh bebuyutan Partai Badak Bercula yang dua tahun lalu kalah di Pilwakot, pantesan saja mereka mendukung jatuhnya pemerintahan Budi Grandong.

Tapi memang bisa dibilang, kasus seperti ini sudah mendarah daging di Kartobanyon. Selain mendarah dan mendaging, kasus seperti ini juga anget-anget tahi ayam. Dari dulu ketika Kartobanyon masih menjadi bagian dari Karesidenan Ngerong hingga sekarang, kasus yang muncul itu-itu aja. Korupsi, penyuapan, perselingkuhan, kolusi, dan hal-hal lainnya yang berbau pencurian uang selalu mewarnai headline media massa kota Kartobanyon. Selain itu pula dalam sekejap, seluruh warga kota Kartobanyon bisa tahu kalau ada korupsi di dalam pemerintahan, namun dalam sekejap pula, isu tersebut lenyap tanpa meninggalkan bekas apapun. Sekali lagi, saya juga ndakngertiKartobanyon iki jane arep didadekne koyok opo.

Kartobanyon adalah kota kecil yang berada di pinggiran Jawa Selatan. Jumlah penduduknya hanya seperseratus dari jumlah penduduk Jakarta. Kartobanyon adalah kota biasa layaknya kota lainnya di Indonesia. Selain secara fisik sama, masalah yang adapun juga sama, itu-itu juga. Makanya warga disini tidak heran kalau kasus yang muncul di Kartobanyon juga muncul di Jakarta. “Lha wong negorone arep ambruk”, kalau guru SMP saya bilang. Tidak hanya guru SMP yang membicarakan masalah (kebiasaan,red) ini, kuli-kuli gabah juga sering membicarakan kebiasaan ini dengan gaya mereka yang seakan-akan paham tentang dunia perpolitikan. Kalau saya mah ngikut-ngikut aja, wong saya cuma lulusan SMP yang jadi peternak tikus, masa mau ikut campur urusan politik wong gedhi meskipun saya tahu mereka  juga lulusan SMP. Ya mungkin gara-gara nasib saya aja yang kurang beruntung sehingga saya ndak selepel sama para pejabat.”, celetuk diri saya sendiri dalam hati.

Sesekali isu muncul dengan gencarnya, lalu menghilang tanpa sebab dan penyelesaian. Seperti Mas Gunawan, meskipun ia sekarang statusnya masih menjadi tersangka, tiap hari dia bersama istri juga masih berkeliaran di mall yang ada di dekat alun-alun kota Kartobanyon. Mungkin karena di Kartobanyon hanya ada satu mall, dan itu juga tempat nongkrongnya orang-orang berduit, para pejabat yang sering berkeliaran  sering ditemukan disana. Memang sering para pejabat itu kepergok sedang berbelanja ria di saat jam kerja, namun sayangnya tidak ada yang menegur. Sekali lagi, lha wong mbah-mbahannya (atasan,red) juga ikut berbelanja gimana mau ada yang melarang? Kartobanyon iki arep didadekne koyok opo. Indonesia iki arep didadekne koyok opo.

Penyebab melenyapnya isu-isu tentang kasus di pemerintahan juga tidak ada yang tahu. Kang Tikno, salah satu kuli gabah yang juga kenalan saya, walaupun mungkin dia sok tau, dia pernah ngomong,”Ya mungkin bosnya yang punya koran dikasih duit sama para pejabat yang kena kasus itu, makanya isunya sering lenyap.” Ada benernya juga Kang Tikno, sekali lagi, meskipun dia SD saja ndak lulus, tapi instingnya terhadap kasus-kasus politik bisa dibilang lebih maju daripada teman-temannya yang sesama kuli gabah. Mungkin orang-orang yang sering menulis di koran tentang kasus-kasus pejabat dikasih uang rokok supaya tidak nulis lagi. Makanya itu, isu politik menjadi anget-anget tahi ayam, dibahas media kalau memang ada tujuannya, ndak dibahas media kalau ada duitnya. Bener-bener, Kartobanyon iki arep didadekne koyok opo.

Jujur saja, saya juga masih bingung tentang keadaan Kartobanyon. Dari dulu hingga sekarang masalah yang muncul itu-itu aja. Dari dulu hingga sekarang kasusnya korupsi mulu. Dari dulu hingga sekarang kasus-kasus wong gedhi juga tak kunjung usai. Dan lebih membuat saya ngelus dada, dari dulu sampai sekarang, saya masih aja jualan tikus.

Kartobanyon ki arep ambruk. Indonesia ki arep ambruk.” kata bapak saya yang masih sering nongkrong sama kuli-kuli gabah.

Tags: Genio
Link

agendaui:

Badan Otonom Economica (BOE) merupakan organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang jurnalistik keilmuan. Sejak tahun 1978, BOE telah mengembangkan pikiran, ide-ide kreatif dan fantastis, serta inovasi-inovasi tersendiri.


Agenda UI merupakan salah satu proyek kebangaan BOE yang telah…

Tags: Agenda UI
Text

Ayahku Koruptor

Oleh: Chrystine Tampubolon

Aku tak pernah menyangka…

Lelaki yang sedari kukecil memegang jemariku,

Menuntun dan membantuku berjalan

Adalah orang yang sama dengan lelaki berjas

Yang muncul di layar kaca, dilindungi oleh sekian

Banyak pria berjubah hitam dari ribuan besitan cahaya

Dan serangan kata…

Lelaki yang selalu mencium sayang dahiku

Mengusap kepalaku, mendekapku erat dengan hangat

Ternyata sama dengan lelaki yang wajahnya

Mengisi sebagian besar halaman pertama koran nasional

Dan ditampar dengan buas oleh kritikan pedas masyarakat

Lelaki yang memanggil namaku dengan penuh kasih

Dan menjulukiku ‘gadis kecil ayah tercantik’

Tak ada bedanya dengan lelaki yang namanya disebut

Dengan penuh kebenciandan tidak hormat

 oleh teman-temanku, yang membuatku dijuluki

‘Putri Pencuri Sialan’

Lelaki yang kukenal sebagai ayahku, yang kukasihi,

Yang kutahu sangat menyayangiku… sampai kemarin!

Ternyata sejenis dengan mereka yang selalu ingin kuludahi…

Tak lebih dari koruptor… 

Tags: Iin
Photoset

Malam Keakraban dan Pra-Raker Badan Otonom Economica 2012/2013

Divisi Proyek: Profit, People, Professionalism, Productivity.