Oleh: Genio Bian Treba Alifianda
“Lha wong saya bukan lulusan kuliahan, gimana saya bisa tau hukum perdata pidana ini itu. Masnya aneh-aneh aja kalo nanya. Saya dulu tukang becak mas, dulu mangkalnya deket Matahari Jalan Pahlawan. Jadi anggota partai dulu juga diajak sama Pak Parwoto, dulu dia itu temen saya pas kerja di Kalimantan.” ujar Mas Gunawan, anggota Partai Badak Bercula yang kini masih berstatus sebagai tersangka kasus penyuapan terminal Purboyo kepada wartawan yang mewawancarainya. “Dulu itu Pak Parwoto yang nyuruh saya ngurusin proyek ini, lha ujug-ujug (tiba-tiba,red) kok jadi rumit gini. Saya itu lho padahal sudah melakukan prosedur yang diperintahkan.” tambah Mas Gunawan.
Memang, situasi di dalam Partai Badak Bercula memang it’s complicated sekarang. Enam dari tujuh belas perwakilannya yang duduk di kursi DPR semuanya sedang tersangkut kasus. Dua di antara enam orang tersebut terlibat kasus wanita, yang satu kasus perselingkuhan yang satunya lagi kasus video porno. Sedangkan tiga orang lainnya terlibat kasus kolusi dan penyuapan pembelian mobil pemadam kebakaran kota. Nah, yang jadi kontroversi sekarang ialah Mas Gunawan, ibarat Gayus Tambunan yang hanya berstatus pegawai negeri golongan 3A namun memiliki rekening hingga milyaran, dia juga membuat warga kota Kartobanyon geleng geleng.
“Lha piye ora nggumun to mas, wong lulusan SMP kok iso dadi anggota DPR trus nduwe mobil Mersi (Lha gimana nggak heran mas, orang yang hanya lulusan SMP kok bisa jadi anggota DPR terus punya mobil Mercedes Benz).” celetuk Saidi, seorang pedagang batik dikawasan Ahmad Yani. “Aku jan ora ngerti, Kartobanyon iki jane arep didadekne koyok opo. Tambah edan wae urusan ne wong gedhi gedhi (Saya juga nggak tahu, Kartobanyon ini mau dijadikan seperti apa. Semakin gila saja urusan para pejabat tinggi).” tambahnya dengan rasa kesal karena situasi politik pemerintahan penuh dengan kasus-kasus yang membuat warga Kartobanyon berang. Disaat anak-anak Kecamatan Wungu banyak yang tidak bisa sekolah gara-gara sekolah mereka terendam banjir, para anggota dewan yang terhormat malah terlibat kasus-kasus yang memalukan. Ini sungguh pukulan telak bagi Partai Badak Bercula. Dengan suara hampir 75% ketika Pilwakot dahulu, mencuatnya kasus-kasus ini membuat kapal pemerintahan Budi Grandong, julukan Pak Budi Hartanto, walikota Kartobanyon yang juga berasal dari Partai Badak Bercula, gonjang-ganjing diambang keruntuhan. Sudah diprediksi bahwa citra Partai Badak Bercula bakalan turun daun dan nggak bakalan menang di Pilwakot dua tahun lagi, kecuali mereka menggunakan siasat licik dengan menjadi pahlawan yang sok-sok menolong pedagang ketika Pasar Baru mengalami kebakaran hebat tiga tahun lalu, padahal mereka sendirilah yang merencanakan pembakaran itu, benar-benar licik, menurut cerita beberapa kuli gabah yang berpindah dari warung ke warung.
Media massa pun tak mau ketinggalan.
“Lulusan SMP Mbadog Duite Rakyat (Lulusan SMP Makan Uang Rakyat)”. Itulah salah satu headline yang muncul di salah satu koran berbahasa Jawa di kota Kartobanyon. Beberapa media massa dari luar kotapun ribut membicarakan masalah ini. Tidak ada satupun warga kota Kartobanyon yang tidak up to date dengan kasus ini, bagaimana tidak, tidak ada satu koranpun yang juga tidak membahas kasus ini. Semuanya muncul di halaman pertama. Lagipula, enam kasus tersebut semuanya terjadi pada saat yang hampir bersamaan dan tidak ada satu kasuspun yang luput dari sorotan media massa. Anak dari Mas Gunawan kata teman-temannya juga mulai jarang masuk sekolah. “Kayaknya dia pindah deh mas ke Batam, ke tempat pakdhe nya.”,jawab seorang siswi SMA Endrakila, tempat anak Gunawan bersekolah. Saking kepo-nya media, kasus ini pun diburu hingga ke bangku sekolah anaknya.
Namun sebenarnya ini merupakan hal yang lumrah, lagipula banyak sekali media massa di kota Kartobanyon dan tidak sedikit pula yang dimiliki oleh para pejabat elit pemerintahan. Makanya tidak heran, ketika kasus ini menyeret sederet nama dari Partai Badak Bercula, harian Srengenge-(matahari,red)-lah yang paling gencar membeberkan kasus ini kepada masyarakat Kartobanyon. Bagaimana mau tidak gencar, lha wongSrengenge itu dimiliki oleh musuh bebuyutan Partai Badak Bercula yang dua tahun lalu kalah di Pilwakot, pantesan saja mereka mendukung jatuhnya pemerintahan Budi Grandong.
Tapi memang bisa dibilang, kasus seperti ini sudah mendarah daging di Kartobanyon. Selain mendarah dan mendaging, kasus seperti ini juga anget-anget tahi ayam. Dari dulu ketika Kartobanyon masih menjadi bagian dari Karesidenan Ngerong hingga sekarang, kasus yang muncul itu-itu aja. Korupsi, penyuapan, perselingkuhan, kolusi, dan hal-hal lainnya yang berbau pencurian uang selalu mewarnai headline media massa kota Kartobanyon. Selain itu pula dalam sekejap, seluruh warga kota Kartobanyon bisa tahu kalau ada korupsi di dalam pemerintahan, namun dalam sekejap pula, isu tersebut lenyap tanpa meninggalkan bekas apapun. Sekali lagi, saya juga ndakngertiKartobanyon iki jane arep didadekne koyok opo.
Kartobanyon adalah kota kecil yang berada di pinggiran Jawa Selatan. Jumlah penduduknya hanya seperseratus dari jumlah penduduk Jakarta. Kartobanyon adalah kota biasa layaknya kota lainnya di Indonesia. Selain secara fisik sama, masalah yang adapun juga sama, itu-itu juga. Makanya warga disini tidak heran kalau kasus yang muncul di Kartobanyon juga muncul di Jakarta. “Lha wong negorone arep ambruk”, kalau guru SMP saya bilang. Tidak hanya guru SMP yang membicarakan masalah (kebiasaan,red) ini, kuli-kuli gabah juga sering membicarakan kebiasaan ini dengan gaya mereka yang seakan-akan paham tentang dunia perpolitikan. Kalau saya mah ngikut-ngikut aja, wong saya cuma lulusan SMP yang jadi peternak tikus, masa mau ikut campur urusan politik wong gedhi meskipun saya tahu mereka juga lulusan SMP. Ya mungkin gara-gara nasib saya aja yang kurang beruntung sehingga saya ndak selepel sama para pejabat.”, celetuk diri saya sendiri dalam hati.
Sesekali isu muncul dengan gencarnya, lalu menghilang tanpa sebab dan penyelesaian. Seperti Mas Gunawan, meskipun ia sekarang statusnya masih menjadi tersangka, tiap hari dia bersama istri juga masih berkeliaran di mall yang ada di dekat alun-alun kota Kartobanyon. Mungkin karena di Kartobanyon hanya ada satu mall, dan itu juga tempat nongkrongnya orang-orang berduit, para pejabat yang sering berkeliaran sering ditemukan disana. Memang sering para pejabat itu kepergok sedang berbelanja ria di saat jam kerja, namun sayangnya tidak ada yang menegur. Sekali lagi, lha wong mbah-mbahannya (atasan,red) juga ikut berbelanja gimana mau ada yang melarang? Kartobanyon iki arep didadekne koyok opo. Indonesia iki arep didadekne koyok opo.
Penyebab melenyapnya isu-isu tentang kasus di pemerintahan juga tidak ada yang tahu. Kang Tikno, salah satu kuli gabah yang juga kenalan saya, walaupun mungkin dia sok tau, dia pernah ngomong,”Ya mungkin bosnya yang punya koran dikasih duit sama para pejabat yang kena kasus itu, makanya isunya sering lenyap.” Ada benernya juga Kang Tikno, sekali lagi, meskipun dia SD saja ndak lulus, tapi instingnya terhadap kasus-kasus politik bisa dibilang lebih maju daripada teman-temannya yang sesama kuli gabah. Mungkin orang-orang yang sering menulis di koran tentang kasus-kasus pejabat dikasih uang rokok supaya tidak nulis lagi. Makanya itu, isu politik menjadi anget-anget tahi ayam, dibahas media kalau memang ada tujuannya, ndak dibahas media kalau ada duitnya. Bener-bener, Kartobanyon iki arep didadekne koyok opo.
Jujur saja, saya juga masih bingung tentang keadaan Kartobanyon. Dari dulu hingga sekarang masalah yang muncul itu-itu aja. Dari dulu hingga sekarang kasusnya korupsi mulu. Dari dulu hingga sekarang kasus-kasus wong gedhi juga tak kunjung usai. Dan lebih membuat saya ngelus dada, dari dulu sampai sekarang, saya masih aja jualan tikus.
“Kartobanyon ki arep ambruk. Indonesia ki arep ambruk.” kata bapak saya yang masih sering nongkrong sama kuli-kuli gabah.